ikin12

Budaya Di Keluarga

Posted on: Oktober 21, 2014

Budaya Jawa merupakan budaya dari jawa yang di jalankan oleh orang jawa khususnya di Jawa Tengah, Jawa Timur dan DI Yogyakarta. Dilihat dari luas wilayah dan banyaknya populasi suku jawa sehingga memepengaruhi budaya yang dianutnya, dengan kata lain budaya jawa ini di bedakan denga 3 garis besar, yakni budaya jawa timur, Jawa tengah – DI Yogyakarta dan Banyumasan. Kebudayaan jawa ini tidak hanya menampilkan nilai-nilai estetika, namun budaya ini mengedepankan nilai-nilai toleransi, keselarasan, keserasian dan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya itu budaya jawa mengankat tinggi nilai kesederhanaan dan kesopanan. Dari sekian banyak budaya yang ada di Indonesia, budaya jawa merupkan salah satu budaya yang digemari oleh orang luar negeri. Budaya tersebut diantanya Tari-tarian, Wayang Kulit, gamelan, sastra, Batik dan Keris, bahkan gamelan jawa dimasukan dalam kurikulum pembelajaran Singapura, Selandia Baru dan Amerika Serikat. Amerika Serikat dan Eropa secara rutin mengadakan pergelaran gamelan jawa serta satu satunya sastra indonesia yang mendapat pengakuan dari UNESCO sebagai memori dunia yaitu sastra jawa Negara Kretagama. Tidak hanya di pulau jawa atau di 3 propinsi di jawa saja, budaya jawa terus berkembang dan di lestarikan oleh suku jawa yang berada di luar pulau jawa. Semoga budaya Jawa tetap lestari dan dapat dinikmati oleh anak cucu di masa yang aka datang.

Kebudayaan Jawa yang digunakan dikeluarga saya adalah bahasa dan saat acara pernikahan. Walaupun kedua orang tua saya orang jawa tulen tetapi saya tidak lancar berbahasa jawa mungkin karena dari lahir sudah tinggal dijakarta. Orang tua saya sangat menggemari wayang biasanya kalau ada acara wayang kulit di Taman Mini sampai subuh dan besoknya hari libur pasti bapak pergi kesana.

Pada saat kakak saya nikah adat yang digunakan itu adat Jawa. Adat jawa pada saat nikahan itu ribet banget mulai dari nentuin tanggal siraman sampai resepsi pun ada tata caranya seperti dibawah ini

Siraman dari asal kata siram ,artinya mandi. Sehari sebelum pernikahan, kedua calon penganten disucikan dengan cara dimandikan yang disebut Upacara Siraman. Calon penganten putri dimandikan dirumah orang tuanya, demikian juga calon mempelai pria juga dimandikan dirumah orang tuanya.

Ngerik artinya rambut-rambut kecil diwajah calon pengantin wanita dengan hati-hati dikerik oleh pemaes.Rambut penganten putri dikeringkan kemudian diasapi dengan ratus/dupa wangi. Perias mulai merias calon penganten . Wajahnya dirias dan rambutnya digelung  sesuai dengan pola  upacara perkawinan yang telah ditentukan.Sesudah selesai, penganten didandani dengan kebaya yang bagus yang telah disiapkan dan  kain batik motif sidomukti dan sidoasih, melambangkan dia akan hidup makmur dan dihormati oleh sesama.Malam itu, ayah dan ibu calon mempelai putri memberikan suapan terakhir kepada putrinya, karena mulai besok, dia sudah berada dibawah tanggung jawab suaminya.Sesaji untuk ngerik sama dengan sesaji siraman. Jadi untuk praktisnya, seluruh sesaji siraman dibawa masuk kekamar pelaminan dan menjadi sesaji untuk ngerik.

srah-srahan atau peningsetan.( Pada zaman dulu, peningsetan dilakukan sebelum malam midodareni).  Orang tua dan keluarga calon penganten pria memberikan beberapa barang kepada orang tua calon penganten wanita.
Peningsetan dari kata singset, artinya mengikat erat, dalam hal ini terjadinya komitmen  akan sebuah perkawinan antara putra putri kedua pihak  dan para orang tua penganten akan menjadi besan.Pemberian itu berupa : Satu set suruh ayu sebagai perlambang  harapan tulus  supaya mendapatkan keselamatan. Seperangkat pakaian untuk penganten wanita , termasuk beberapa kain batik dengan motif yang melambangkan kebahagiaan hidup. Tidak boleh ketinggalan sebuah stagen, ikat pinggang kain putih  yang besar dan panjang, sebagai pertanda kuatnya  tekad.Beberapa hasil bumi a.l. beras, gula, garam, minyak goreng, buah-buahan dlsb sebagai pralambang hidup kecukupan dan sejahtera bagi keluarga baru.

Ijab adalah hal paling penting untuk melegalisir sebuah perkawinan. Ijab atau perkawinan  dilaksanakan sesuai dengan agama yang dianut kedua penganten, bisa Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Konghucu.

Sepasang pengantin melakukan  sungkem kepada kedua belah pihak orang tua. Mula-mula kepada orang tua pengantin wanita kemudian kepada orang tua pengantin pria. Sungkem adalah merupakan bentuk penghormatan tulus kepada orang tua dan pinisepuh.
Pada waktu sungkem ( menghormat dengan posisi jongkok , kedua telapak tangan menyembah dan mencium lutut yang di-sungkemi), keris yang dipakai pengantin pria dilepas dulu dan dipegangi oleh perias, sesudah selesai sungkem , keris dikenakan kembali.

Sesudah seluruh rangkaian upacara perkawinan selesai, dilakukan resepsi, dimana keduatemanten baru, dengan diapit kedua belah pihak orang tua, menerima ucapan selamat dari para tamu.
Dalam acara resepsi, hadirin dipersilahkan menyantap hidangan yang sudah disediakan, sambil beramah tamah dengan kerabat dan kenalan. Ada kalanya,  sebelum resepsi  dimulai, diadakan pementasan fragmen  tari Jawa klasik yang sesuai untuk perkawinan seperti fragmen Pergiwo Gatotkaca atau  tariKaronsih, yang melukiskan hubungan cinta kasih wanita dan pria.

Sumber :

http://www.jagadkejawen.com/index.php?option=com_content&view=article&id=7&Itemid=7&lang=id

http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya_Jawa

http://budayaindonesiasatu.blogspot.com/2013/07/budaya-jawa.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: